Kejutan Ujian Nasional

Oleh Anwari WMK

DARI tahun ke tahun Ujian Nasional mencetuskan kejutan. Tetapi sayangnya, kejutan itu tak sepenuhnya bermakna positif. Kejutan juga membawa serta muatan negatif. Itulah mengapa, sejak digulirkan pada 2003, Ujian Nasional tak habis-habisnya menuai kritik. Pada 2010, sekali lagi, Ujian Nasional untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) memunculkan kejutan. Terutama, kejutan itu berkait erat dengan tingkat kelulusan Ujian Nasional di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sebagaimana diketahui, Yogyakarta merupakan kota tua yang sejak awal kemerdekaan Indonesia dikenal luas sebagai ‘kota pelajar’. Yogyakarta pun mendapatkan julukan sebagai kota budaya. Yogyakarta merupakan salah satu episentrum pergulatan intelektual di Tanah Air. Sebagai kawah candradimuka perkembangan intelektual, posisi Yogyakarta  hampir paralel dengan Jakarta dan Bandung. Karena itu, merosotnya prestasi Yogyakarta dalam hal Ujian Nasional menimbulkan tanda tanya.

Tingkat kelulusan Ujian Nasional untuk SLTA di Yogyakarta hanya berada pada kisaran 76,3%. Masuk ke dalam cakupan SLTA ini adalah Sekolah Menengah Atas, Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Atas Kejuruan. Tingkat kelulusan ini merupakan yang terendah di Pulau Jawa. Secara statistik, jumlah siswa SLTA Yogyakarta yang tak lulus Ujian Nasional pada 2010 mencapai  23,7% dari total peserta Ujian Nasional tingkat SLTA se-Yogyakarta yang mencapai 39.938 siswa (terdiri dari 19.443 siswa SMA/MA dan 20.495 siswa SMK).  Dengan demikian berarti, jumlah total siswa yang tak lulus Ujian Nasional sekitar 8.500 orang. Jelas, kenyataan ini merupakan kontras yang mencolok bagi Yogyakarta sebagai kota pelajar.

Apakah dengan statusnya sebagai yang terburuk di Pulau Jawa itu Yogyakarta bukan lagi kota pelajar yang patut diperhitungkan? Bagaiaman sesungguhnya membaca fakta keterpurukan Yogyakarta dalam hal Ujian Nasional tingkat SLTA?

Sebuah klarifikasi menyebutkan, rendahnya tingkat kelulusan Ujian Nasional di Yogyakarta tidaklah sepenuhnya obyektif.  Itulah mengapa, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi DIY mengimbau setiap kepala sekolah SMA/SMK dan sederajat agar memeriksa kemungkinan adanya kejanggalan hasil Ujian Nasional siswa. Artinya, tingkat kelulusan yang hanya 76,3% itu janganlah diterima secara taken for granted. Ada kemungkinan, telah terjadi kesalahan terhadap proses pemindaian dan kesalahan koreksi terhadap lembar jawaban Ujian Nasional. Maka, siswa yang seharusnya lulus menjadi tidak lulus.

Ujian Nasional memang bukanlah representasi dari realitas sesungguhnya kualitas siswa. Ujian Nasional hanyalah suatu model evaluasi belajar yang tak berpijak pada prinsip imparsialitas. Proses pembelajaran siswa dari hari ke hari tak masuk ke dalam cakupan Ujian Nasional.

Mungkin, para pejabat Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi DIY tak berlebihan tatkala menyinggung masalah obyektivitas, berdasarkan munculnya sejumlah kejanggalan. Siswa pandai dan berprestasi justru mendapatkan nilai buruk dalalm Ujian Nasional. Sementara siswa yang berada di bawah rata-rata, mendapatkan nilai bagus. Tahun-tahun sebelumnya, kenyataan ini tak mencuat sebagai persoalan serius di Yogyakarta.

Apa yang terjadi Yogyakarta itu sesungguhnya terbuka untuk dimengerti berdasarkan dua perspektif. Pertama, rendahnya tingkat kelulusan Ujian Nasional itu memang merupakan pertanda berakhirnya Yogyakarta sebagai kota pelajar. Hasil-hasil Ujian Nasional kali ini merupakan indikasi timbulnya krisis terhadap pendidikan pada level SLTA di Yogyakarta. Sedemikian rupa, hasil-hasil Ujian Nasional merupakan penunjuk arah tamatnya keunggulan Yogyakarta  dalam hal pengelolaan bidang pendidikan.

Kedua, hasil-hasil Ujian Nasional itu tak perlu dirisaukan sebagai persoalan serius. Sebab, Ujian Nasional memang bukanlah representasi dari realitas sesungguhnya kualitas siswa. Ujian Nasional hanyalah suatu model evaluasi belajar yang tak berpijak pada prinsip imparsialitas. Proses pembelajaran siswa dari hari ke hari tak masuk ke dalam cakupan Ujian Nasional. Dengan demikian, Yogyakarta masih sebuah kota pelajar yang mutlak diperhitungkan.[] 

 

Referensi:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/25/03520153/kelulusan.un.di.diy..763.persen.