| NTU pays a visit to Jubilee School 27/08/2010 | JMC Jakarta—JMC .On the morning of Tuesday, 24 August 2010, Jubilee School was privileged to receive d [ ... ] |
Parent's Meeting SMP 2010 23/08/2010 | admin SMP/ParentsMeeting | Other Articles | ||
Kapasitas Keilmuan Individu | Editorial Pendidikan | Kamis, 15 April 2010
Kapasitas Keilmuan Individu
Oleh Anwari WMK
Persis sebagaimana kemudian diberitakan secara luas oleh media massa dari arena International Conference of Young Scientists (ICYS) Ke-17 di Sanur, Bali, beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengucapkan kalimat berikut. “Tradisi untuk menghargai pelajar yang berprestasi harus kita bangun. Sesuai komitmen Presiden, pelajar yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional diberi beasiswa untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.”
Apa lalu yang penting digaris-bawahi dari adanya ancangan pemerintah itu? Sesungguhnya, haruslah disambut dengan suka cita jika memang ada upaya untuk memberikan insentif terhadap siswa berprestasi dalam dunia ilmu. Kita bahkan memberikan dukungan moril agar pemberian insentif semacam itu menstimuli siswa lain di berbagai penjuru Nusantara agar turut serta berprestasi pada level nasional maupun internasional. Maka, salut dan apresiasi sudah selayaknya diberikan kepada pemerintah.

Sungguh pun demikian, kita tak mungkin mengelak dari adanya torehan catatan kritis. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemerintah, ancangan yang tampak bagus di atas permukaan itu tak mungkin diterima secara taken for granted. Bagaimana pun, semuanya masih berupa rencana, kehendak dan daftar keinginan. Realisasinya di lapangan takkan sepenuhnya berjalan seperti diharapkan. Dengan demikian berarti, ancangan pemberian insentif itu mustahil diterima tanpa reserve. Sebab antara rencana dan tindakan, sangat mungkin pada akhirnya bersimpang jalan.
Catatan kritis lain berkaitan erat dengan tendensi pengelolaan pendidikan di tangan pemerintah. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa pemerintah sejauh ini cenderung berorientasi proyek dalam mengelola bidang pendidikan. Itulah mengapa, serangkaian kritik terhadap pemerintah hingga kini terus mengalir deras mempersoalkan tata kelola pendidikan. Pemberian insentif bagi siswa berprestasi ini pun tidaklah steril dari kecenderungan untuk memosisikan pendidikan semata sebagai proyek. Ancangan yang semula tampak bagus di atas kertas, potensial untuk pada akhirnya tergerus semata sebagai proyek.
Dengan latar persoalan tersebut, bagaimana lalu memaknai hakikat insentif bagi siswa berprestasi? Apa yang penting dikemukakan agar insentif bagi siswa berprestasi menjadi momentum demi memajukan dunia pendidikan di Indonesia?
Terlepas dari ada tidaknya insentif dengan gambaran sebagaimana dikemukakan di atas, agenda besar pendidikan nasional sesungguhnya terkait dengan kapasitas keilmuan individu. Meminjam perspektif filosof Maurice Merleau-Ponty, setiap manusia memiliki struktur-struktur penghayatan yang bersifat pre-reflektif. Artinya, secara intuitif setiap individu memiliki kemampuan bawaan untuk melakukan analisis terhadap noema atau dunia yang disadari. Boleh dikata, penghayatan yang bersifat pre-reflektif ini merupakan “kemampuan purba” yang melekat pada setiap individu.
Di mana pun dan kapan pun, pendidikan mustahil bertindak sepihak dengan memasukkan aneka substansi kurikulum ke dalam kesadaran siswa. Tak kalah pentingnya, proses pendidikan memperbesar dan memperkuat struktur-struktur penghayatan pre-reflektif kalangan siswa. Sebab, pada struktur-struktur penghayatan pre-reflektif itulah termaktub kepasitas keilmuan siswa sebagai seorang individu. Untuk mudahnya, sebut saja itu “kuriositas” (curiosity). Sangat elegan manakala insentif tak mengabaikan struktur-struktur penghayatan pre-reflektif.[]









