| NTU pays a visit to Jubilee School 27/08/2010 | JMC Jakarta—JMC .On the morning of Tuesday, 24 August 2010, Jubilee School was privileged to receive d [ ... ] |
Parent's Meeting SMP 2010 23/08/2010 | admin SMP/ParentsMeeting | Other Articles | ||
Kemajuan Bangsa | Editorial Pendidikan | Rabu, 14 April 2010
Kemajuan Bangsa
Oleh Anwari WMK
KETERBELAKANGAN tak pernah berdimensi tunggal. Demikian pula kemajuan, tak pernah berdimensi tunggal. Secara demikian berarti, prestasi dan kegagalan bersifat multidimensional. Begitulah kesimpulan yang dapat ditarik dari pengalaman pembangunan pada banyak negeri di dunia. Sementara, pembangunan (development) itu sendiri dimaksudkan sebagai upaya sadar membebaskan rakyat dari belenggu keterbelakangan (backwardness). Keterbelakangan dalam bidang ekonomi, misalnya, berjalin kelindan dengan keterbelakangan bidang sosial, budaya dan politik.

Keterbelakangan yang sedemikian rupa itu termaktub ke dalam buku karya Ian Roxborough, Theories of Underdevelopment (1979). Sekalipun sudah klasik, buku ini penting dipertimbangkan kembali dalam hal memahami dan memaknai keterbelakangan suatu bangsa. Keterbelakangan pada titik ini, bermakna in totality. Itulah mengapa, tidaklah relevan berbicara tentang keterbelakangan secara partikular. Keterbelakangan mustahil dimengerti pada pelataran sektor per sektor. Keterbelakangan harus disimak konteksnya pada keseluruhan sektor yang saling kait-mengait.
Keterbelakangan dalam pengertian in totality itu paralel dengan kemajuan yang juga harus in totality. Jika sebuah bangsa mengarahkan perekonomiannya agar memiliki keunggulan kompetitif, maka agenda memajukan perekonomian harus berjalan seiring dengan terlaksananya agenda memajukan kehidupann sosial, budaya dan politik. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan, umpamanya, hanya mungkin dihela mencapai taraf kemajuaan yang signifikan manakala ada upaya sengaja memajukan bidang ekonomi, sosial dan politik. Mendambakan pendidikan bermutu, mustahil jika tak mendapatkan sokongan dari bidang ekonomi, sosial dan politik.
Dengan demikian, upaya saksama memajukan pendidikan memiliki kejelasan aksioma. Bahwa cita-cita memajukan pendidikan mengharuskan adanya perhatian secara saksama pula terhadap kemajuan bidang ekonomi, sosial dan politik. Itulah mangapa, the ideas of progress tak mungkin direduksi hanya menyangkut faktor tunggal penentu kemajuan. Pertanyaannya kemudian, apa yang harus dilakukan agar upaya memajukan pendidikan—sebagai bagian dari kebudayaan—mendapatkan dukungan dari bidang ekonomi, sosial dan politik?
Jawaban terhadap pertanyaan ini bisa dimulai dengan menampilkan sejumlah catatan tentang prestasi akademis. Sejauhmana bidang-bidang lain di luar pendidikan memberikan dukungan penuh terhadap prestasi akademis, itulah masalahnya.
Keamanan biologi (biosecurity) merupakan contoh kongkret dari kemampuan Indonesia mencapai prestasi akademik. Bahkan, pengalaman ilmuwan Indonesia mengelola biosecurity menjadi rujukan komunitas ilmuwan internasional. Dengan sendirinya, prestasi akademik ini mendapatkan pengakuan di fora internasional.
Dalam lokakarya bertajuk The Global Challenge of Biological Controls yang berlangsung di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jenewa, medio April 2010, pengakuan dunia internasional terhadap prestasi Indonesia dalam bidang biosecurity itu benar-benar tergambarkan dengan jelas. Pakar biologi molekuler Dr. Herawati Sudoyo dari Lembaga Eikjman, Jakarta, tampil sebagai panelis dalam lokarya itu. menjadi rujukan komunitas ilmuwan internasional. Dengan sendirinya, prestasi akademik ini mendapatkan pengakuan di fora internasional. Dalam lokakarya bertajuk
Tampil dengan makalah berjudul “Indonesia and the Global Challenge of Biological Controls”, Herawati Sudoyo merupakan ikon pencapaian prestasi akademik dalam bidang biologi molekuler. Kalau kenyataan ini dinilai sebagai satu titik keberhasilan, mungkinkah pencapaian akademis Herawati Sudoyo pada akhirnya menstimuli ilmuwan lain di Tanah Air agar juga meraih pretasi spektakuler dalam bidang biologi molekuler?
Ternyata, pertanyaan ini sekaligus gugatan terhadap para politikus. Sebagai penentu jalannya kekuasaan, para politikus niscaya membangun suatu bentuk kecerdasan agar sungguh-sungguh mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan biologi molekuler di Tanah Air. Bukan saja para politikus harus belajar memahami hakikat biologi molekuler serta maknanya bagi bangsa ini. Para politikus juga mutlak memberikan dukungan politik terhadap pengembangan biologi molekuler. Sehingga, biologi molekuler dipahami dalam konteks in totality.[]










